Pola Rectangle Dalam Trading Forex

Pergerakan pasar yang terus berubah, bahkan terkadang pasar bergerak hanya sedikit-sedikit tanpa menunjukkan perubahan yang signifikan. Jika Anda berpikir bahwa hal tersebut adalah pertanda bahwa pasar akan berhenti bergerak, ini merupakan kesalahan. Justru dengan gerakan kecil inilah Anda bisa mengidentifikasi gerakan selanjutnya dengan pola rectangle dalam trading forex. Bagi para trader dan terkhusus pemula mari kita simak lebih lanjut tentang pola trading satu ini.

Setiap trader forex baik itu pemula maupun trader yang profesional pastinya gemar mencari analisa trading yang terbaik, nyaman dan akurat agar selalu mendapatkan keuntungan. Intinya setiap trader mempelajari dan mengetahui pola harga yang sedang dan akan terjadi dalam suatu pergerakan pasar trading. Hal ini sangat membantu untuk memprediksi ataupun menganalisa tren yang terjadi, dari situlah Anda trader dapat membuka dan menentukan posisi trading.

Pengertian Pola Rectangle

Pola empat persegi panjang atau dalam dunia trading dikenal dengan pola rectangle. Pola ini merupakan salah satu pola pergerakan harga yang menunjukkan penerusan arus tren (trend continuation). Meski tidak selalu meneruskan arah tren atau terkadang juga bisa terjadi pembalikan tren (trend reversal), namun kasus penerusan arus tren lebih sering terjadi sehingga kemungkinannya lebih besar. Pola ini terjadi ketika kondisi tren sedang kuat, dan pada satu waktu pergerakan tren berhenti dan berkonsolidasi pada level resistance dan support tertentu yang akhirnya membentuk pola rectangle.

Biasanya target penerusan harga dapat diukur dengan mengukur jarak rectangle, lebar rectangle atau level support atau resistance yang akan dicapai. Dalam menentukan target harga seperti ini kita harus mengidentifikasi pola secara lebih rinci. Umumnya harga akan mengalami perpanjangan jika rectangle terbentuk kurang berarti, atau dibuat dari konsolidasi yang sempit dan dalam jangka waktu yang lama.

Dalam hal ini sebagian besar pembeli menyebabkan harga bergerak naik atau penjual yang menyebabkan harga bergerak turun untuk menutup posisi membeli atau menjualnya untuk mengambil keuntungan. Namun, setelah beberapa saat pembeli atau penjual tersebut masuk kembali dan tren pergerakan harga terus berlanjut. Pembentukan pola ini mirip dengan pola bendera (flag), perbedaannya berada pada periode konsolidasi yang lebih panjang.

Terdapat dua jenis pola empat persegi panjang yaitu bearish rectangle dan bullish rectangle. Bearish rectangle merupakan pola yang terbentuk pada akhir downtrend. Sedangkan bullish rectangle merupakan pola rectangle yang terbentuk pada akhir uptrend. Dalam prakteknya fase konsolidasi dari pola rectangle tidak harus berbentuk channel horizontal lurus, namun bisa agak miring atau seperti membentuk sudut. Di bawah ini penjelasan dari keduanya:

1. Pola Bearish Rectangle

Pada pola ini, jika harga bergerak downtrend dan kemudian bergeser ke sideways (ranging) maka kemungkinan akan membentuk bearish rectangle, yaitu jika terjadi breakout dan harga menembus level support. Tetapi jika tidak terjadi breakout dan pergerakan harga berbalik arah maka akan terbentuk pola double bottom.

Bila harga penutupan breakout candlestick berada di bawah level support, entry sell dapat dilakukan pada candle setelahnya. Stop loss dapat ditentukan beberapa pips di atas level resistance, dan target profit bisa ditentukan sebesar tingginya rectangle atau sebesar jarak antara level resistance dan support. Dengan metode ini risiko maupun reward rationya lebih kecil dari 1: 1. (Baca Juga: Mengenal Candlestick Bullish Reversal Pattern)

Cara alternatifnya adalah setelah breakout dan level support berubah menjadi resistance, Anda hanya perlu tunggu harga bergerak kembali dan menguji level resistance tersebut. Jika harga tidak menembus level resistance maka Anda dapat entry sell.

Level stop lossnya ditentukan oleh beberapa pip di atas level resistance, dan target profit ditentukan sebesar tingginya rectangle atau sebesar jarak antara level resistance dan support seperti pada metode sebelumnya, sehingga metode ini bisa diperoleh dengan reward risiko rasio yang lebih besar.

2. Pola Bullish Rectangle

Jika harga bergerak uptrend dan kemudian bergeser ke sideways (ranging) maka kemungkinan akan membentuk pola bullish ini, yakni jika terjadi breakout dan harga menembus level resistance. Namun jika tidak ada breakout dan pergerakan harga berbalik arah maka akan terbentuk pola double top.

Pola seperti ini dapat diidentifikasi dengan formasi level resistance, level support dan breakout pada level resistance. Bila harga penutupan breakout candlestick berada di atas level resistance, maka entry buy bisa dilakukan pada candle berikutnya. Stop Loss dapat ditentukan beberapa pip di bawah level support, dan target profit biasanya ditentukan sebesar rectangle atau jarak antara level resistance dan support. Dengan pola bullish rectangle ini risiko maupun reward rationya sekitar 1:1.

Cara alternatifnya adalah setelah breakout dan level resistance berubah menjadi support, Anda hanya perlu menunggu harga bergerak balik dan menguji (retest) level support tersebut. Jika harga tidak menembus level support maka Anda bisa entry buy.

Untuk mendapatkan momen entry yang lebih akurat Anda dapat gunakan indikator teknis seperti indikator MACD atau indikator lain seperrti oscillator (RSI, stochastics), juga dengan memperhitungkan formasi price action dari candlestick-nya.

Dengan menggunakan metode ini akan diperoleh risk reward ratio yang cukup besar karena Anda dapat menempatkan level stop loss pada beberapa pip di bawah level support, sedangkan target profit ditentukan sebesar tingginya rectangle atau sebesar jarak antara level resistance dan support seperti pada metode sebelumnya.

Prinsip Kerja Pola Rectangle

Ketika membaca rectangle, sinyal entry utama untuk persegi panjang yakni menunggu harga breakout (menembus ke luar pola rectangle). Jika harga menembus garis support atau resistance, trading berada di arah breakout, dengan proteksi stop loss tepat di dalam pola rectangle. Pergerakan harga menembus pola rectangle yang divalidasi saat volume meningkat ketika breaakout. Volume harus paling sedikit 33% sampai 50% lebih tinggi saat breakout; Jika tidak, ini mungkin merupakan false breakout.

Anda bisa melakukan trading dengan pola rectangle. Anda bisa membeli di garis support, dengan stop loss proteksi tepat di bawah garis support dan target harga Anda berada di garis resistance. Atau Anda bisa menjual di garis resistance, dengan stop loss proteksi tepat di atas garis resistance dan target harga Anda berada pada garis support.

Ketinggian pola rectangle bisa menjadi target harga saat melakukan trading dalam pola ini dan merupakan target harga minimum saat melakukan trading breakout. Bila harga keluar dari rectangle, ambil tinggi rectangle dan proyeksikan ke arah harga breakout. Ini ialah proyeksi harga minimum. Proyeksi harga maksimumnya ialah lebar rectangle dari titik pertama ke arah breakout.

Penutupan

Pola rectangle terbentuk saat trading pasar bolak-balik dalam kisaran yang dapat diidentifikasi dengan menggambar garis horisontal horizontal pada kisaran pasang tertinggi dan terendah. Pola itu adalah contoh dari sebuah range bound trading. Harga biasanya naik di atas kisaran, lalu turun kembali beberapa kali sebelum terjadi breakout. Pola tersebut mungkin mengindikasikan keragu-raguan pasar, tren perubahan yang akan datang atau konsolidasi sebelum melanjutkan tren yang ada. Pola rectangular jarang memberikan keunggulan atau tren jangka panjang secara mutlak. Kemungkinannya lebih tinggi bahwa pelarian pada akhirnya akan mengarah pada tren yang ada.

Post A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *