Perbedaan Indikator Simple Moving Average (SMA) & Exponential Moving Average (EMA)

Moving Average (MA) merupakan salah satu indikator analisis teknikal yang paling umum digunakan oleh sebagian besar para pemain saham. Perlu Anda ketahui bahwa indikator teknikal ini bukanlah perangkat yang dapat menjadikan Anda seperti cenayang, namun ia hanya bisa membantu Anda untuk mengenali potensi pergerakan harga.

Selain sering dipakai dalam memprediksi saham, Moving Average pun masih diandalkan oleh beberapa bursa saham untuk mengetahui pergerakan rata-rata harga sehingga mereka tetap mengikuti perkembangan trend harga di masa depan. MA juga sering sering dikenal dengan teknik dasar dalam analisis teknikal yang berguna untuk mengetahui apakah harga suatu saham memiliki peluang yang lebih besar. Selain itu, MA menjadi indikator yang lumayan akurat dari analisis teknikal lainnya, sekaligus menjadi senjata utama para trader.

MA terdiri dari beberapa jenis, namun yang paling sering dimanfaatkan oleh trader adalah Simple Moving Average (SMA) dan Exponential Moving Average (EMA). Mungkin, Anda bertanya-tanya mengenai yang mana lebih baik antara indikator SMA dan EMA tersebut. Terlebih lagi fungsi atau kegunaannya pun jelas berbeda bila dilihat dari namanya. Berikut ini kami akan menjelaskan secara rinci tentang perbedaan indikator Simple Moving Average (SMA) & Exponential Moving Average (EMA).

Perbedaan Dasar SMA dan EMA

Perbedaan mendasar antara indikator SMA dan EMA dapat Anda lihat dari kegunaannya. Jika Anda ingin menggunakan indikator Moving Average pada pasar saham yang memang bergerak dengan cepat, maka EMA adalah pilihan terbaik. Kenapa bisa?

Sebab EMA mampu menangkap perubahan sebuah trend dengan sangat kencang sehingga trader akan menghasilkan keuntungan yang lebih besar pula. Tetapi indikator ini mempunyai kelemahan yaitu Anda akan mempunyai kemungkinan untuk mendapatkan signal palsu selama periode waktu konsolidasi. Hal ini dikarenakan EMA sangatlah cepat dalam merespon setiap harga saham sehingga membuat Anda berpikir akan tersedia sebuah perubahan trend yang terbentuk, padahal sebenarnya itu hanya sebuah spike harga belaka.

Beda pula dengan SMA, kegunaannya ini kebalikan dari EMA. Jika Anda menginginkan indikator Moving Average yang lebih halus dan lebih lambat dalam merespon setiap tindakan pergerakan dari harga-harga saham, mungkin SMA ialah pilihan yang dapat Anda gunakan. (Baca juga: Apa itu Parabolic SAR dalam forex)

Hal tersebut dikarenakan SMA mampu bekerja dengan lebih baik saat melihat time frame yang lebih lama dan akan memberi gambaran pada Ada tentang urutan suatu trend secara keseluruhan. Walaupun lambat merespon tindakan harga, namun hal ini dapat menyelamatkan Anda dari signal palsu. Kekurangan dari SMA adalah Anda mungkin akan menunda lebih lama sehingga akan kehilangan momentum untuk masuk di harga terbaik.

Simple Moving Average (SMA)

Simple Moving Average atau SMA adalah indikator Moving Average yang paling sederhana, sesuai dengan namanya yaitu simple. Namun, jangan remehkan kemampuan SMA ini karena memang terdengar sederhana tapi apabila dengan penggunaan yang tepat, SMA dapat menuntun Anda untuk mengenali pergerakan harga.

Sebagai contohnya, apabila Anda menggunakan SMA 50 di grafik 1 jam, maka SMA 50 yang bisa Anda lihat ialah hasil penjumlahan dari 50 harga penutupan terakhir. Kemudian, hasil penjumlahan tersebut dibagi lagi dengan 50, sehingga dari perhitungan itulah Anda bisa memperoleh nilai rata-rata dari harga penutupan dalam 50 jam terakhir.

Seperti penjelasan di atas, sebenarnya dalam praktek langsung Anda tak perlu bersusah payah lagi menghitung indikator SMA tersebut karena platform trading yang biasa Anda gunakan pasti sudah menyediakan alatnya. Lantas kenapa perlu repot-repot mempelajari perhitungannya?

Tujuan dari menghitung SMA yaitu supaya Anda bisa memiliki suatu gambaran mengenai apa sebenarnya maksud dari SMA ini sehingga Anda mengerti dasar-dasarnya apabila ingin memodifikasi SMA sesuai dengan strategi Anda nanti.

Exponential Moving Average (EMA)

Kebanyakan para trader di pasar valuta asing sering menggunakan indikator Expoential Moving Average (EMA). Namun permasalahan utamanya yaitu EMA kerap memberikan sinyal dobel, contohnya bereaksi berulang-ulang kali terhadap suatu pergerakan harga sehingga awalnya saat sinyal baru diterima dan kedua, saat nilai dihapus dari perhitungan rata-rata. Bukan hanya itu, indikator tersebut juga berubah ketika nilai harga baru muncul.

Jadi dapat disimpulkan, EMA berbeda dengan Simple Moving Average. EMA hanya mampu bereaksi satu kali terhadap perubahan harga, terutama ketika harga tersebut diterima. Berdasarkan fakta inilah EMA dinilai lebih diminati untuk digunakan pada proses trading forex.

Alasan lainnya yaitu indikator cenderung lebih mementingkan data yang baru ketimbang informasi yang telah lama sehingga EMA mampu bereaksi pada perubahan harga terkini lebih luwes dan tidak selalu bergantung pada perubahan lama, yang mana indikator ini akan bisa menghasilkan grafik harga yang lebih halus dan berkualitas.

EMA sangat direkomendasikan oleh para trader profesional sebagai indikator yang paling handal saat ini, bila dibandingkan dengan indikator serupa lainnya. EMA dapat mempersingkat penundaan berdasarkan fakta dalam perubahan terbesar yang diberi oleh harga-harga terakhir. Anda juga patut mempertimbangkan bahwa bobot yang diberi pada harga terakhir sepenuhnya bergantung pada jangka panjangnya waktu EMA.

Mana yang harus dipilih, SMA atau EMA?

Mungkin sekarang Anda masih bingung tentang indikator mana yang harus Anda pakai, SMA atau EMA? Jangan bingung-bingung sebab EMA ataupun SMA juga mempunyai kekurangan dan kelebihan masing-masing yang dapat Anda sesuaikan dengan kepribadian Anda sendiri.

Apabila Anda termasuk trader yang agresif sehingga ingin menggunakan indikator MA yang mampu bereaksi lebih cepat terhadap pergerakan harga, maka Anda harus memilih EMA sebab indikator ini memang pilihan yang tepat. EMA dapat membantu Anda dalam menangkap peluang yang lebih gesit dibandingkan SMA.

Dengan demikian, keuntungan atau profit yang dapat Anda hasilkan tentunya akan lebih besar pula, tetapi kekurangannya yaitu Anda bisa saja terjebak oleh sinyal palsu yang diberikan oleh EMA. Maka dari itu, kami sarankan harus teliti dan hati-hati dalam menganalisa harga saham.

Nah, apabila Anda termasuk orang yang lebih pasif dalam bertrading, maka SMA adalah pilihan terbaik untuk Anda. SMA bereaksi lebih lambat dalam pergerakan harga dibandingkan EMA. Dengan begitu, peluang yang diberikannya pun akan lebih lama muncul. Hal ini berarti profit yang dihasilkan pun akan lebih kecil, tetapi kemungkinan terjebak oleh sinyal palsu lebih kecil pula.

Jadi sudah tahu harus pilih yang mana? Hanya Anda-lah yang tahu bagaimana karakter Anda sendiri yang sesuai dengan indikator SMA ataupun EMA.

Namun, selalu ingatlah kalimat ini, apabila harga secara umum bergerak di atas Moving Average, maka tren yang sedang berlangsung ialah Uptrend. Dan sebaliknya apabila harga secara umum bergerak di bawah Moving Average, maka tren yang sedang berlangsung ialah Downtrend. Mudah kan? Inilah prinsip dasar dalam penggunaan Moving Average.

Incoming search terms:

  • perbedaan indikator sma viabel
  • pilih mana moving average and exponential smoothing

Post A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *