Pengertian Overbought dan Oversold dalam Trading Forex

Harga pasar memang tidak selalu bergerak naik maupun turun secara terus-menerus. Dalam kondisi level tertentu, harga yang sudah naik atau turun terlalu jauh akan mengalami koreksi, sebelum meneruskan arah pergerakan trend dan berbalik. Harga yang naik hingga mencapai level tertentu akan mengalami overbought, sedangkan harga yang turun hingga level tertentu dinamakan oversold. Dari kedua penjelasan singkat ini, apakah Anda paham mengenai pengertian overbought dan oversold dalam trading forex? Jika belum, mari simak lebih lanjut dalam pembahasan di bawah ini.

Seolah menjadi keharusan, setiap Anda ingin terjun ke dunia forex, pastinya Anda wajib mempelajari segala seluk-beluk mengenai trading forex tersebut supaya mendapatkan profit yang diinginkan. Anda perlu kenali management resiko dalam trading forex maupun yang paling mendasar seperti indikator atau metode-metode yang digunakan. Selain itu, Anda juga perlu mengenali istilah-istilah asing seperti overbought dan oversold yang akan kami jelaskan pada artikel kali ini.

Pengertian Overbought dan Oversold
Istilah Overbought dan Oversold adalah gabungan dua kata. Kata pertama, over berarti terlalu atau sangat, sedangkan bought adalah beli, dan sold yaitu jual. Namun di dunia investasi, kata over di atas didefinisikan sebagai “Jenuh”.

Overbought adalah suatu kondisi dimana harga telah mengalami jenuh beli. Dalam hal ini, overbought yang dimaksud adalah, secara umum harganya terlalu mahal di pasaran, dan cukup logis jika harganya akan diturunkan. Ketika harga menjadi overbought, pembeli biasanya menutup semua posisi beli dan menunggu momentum permintaan yang masuk akal.

Pada bagan visual grafik, harga akan bergerak turun setelah kondisi tersebut dianggap overbought. Hal ini dikarenakan pasar saat itu pembeli sudah sedikit dan mereka melakukan aksi profit secara simultan. Maka wajar jika pasar bergerak turun saat harga overbought atau jenuh beli.

Sedangkan oversold adalah kondisi dimana harga sudah mengalami oversold, yang berarti harga dianggap terlalu murah dan harus ditingkatkan. Seperti kondisi overbought, oversold juga bisa mencerminkan kondisi pasar saat ini, yakni para penjual telah menurunkan harganya terlalu rendah kemudian datanglah banyak pembeli. Inilah yang membuat harga bergerak naik setelah pasar sudah terasa oversold.

Ada banyak parameter dan indikator yang bisa memvisualisasikan kondisi overbought dan oversold ini. Di MetaTrader juga disediakan indikator untuk melihat pasar dalam kondisi tertentu, seperti indikator RSI, ATR dan Stokastik. Hanya dua indikator yang biasa digunakan oleh trader untuk melihat kondisi pasar dalam keadaan tertentu, yaitu RSI dan Stochastic. Kedua indikator ini sangat mudah digunakan dan memberikan sinyal yang valid.

Sementara itu, kemungkinan yang akan terjadi saat kondisi overbought dan oversold ialah koreksi atau pembalikan arah gerak. Kedua kemungkinan ini dapat dikonfirmasi dengan indikator oscillator, salah satunya yang populer ialah indikator Relative Strength Index (RSI). Apabila terkonfirmasi dengan benar, alhasil keadaan overbought dan oversold menjadi peluang trading yang cukup bagus.

Overbought vs Oversold
Kondisi overbought atau jenuh beli menunjukkan periode waktu dimana ada pergerakan uptrend yang signifikan dan konsisten tanpa koreksi yang signifikan. Pada grafik trading situasi ini terlihat ketika harga naik dari level terendah di kiri bawah grafik ke level tertinggi di kanan atas grafik seperti pada contoh berikut:

Sedangkan, kondisi oversold atau jenuh jual menunjukkan periode waktu dimana ada pergerakan turun yang signifikan dan konsisten tanpa koreksi yang berarti. Pada grafik trading situasi ini muncul ketika harga turun dari level tertinggi di kiri atas grafik ke level terendah di kanan bawah grafik seperti di bawah ini:

Karena harganya tidak akan terus naik atau turun, maka pada tingkat tertentu akan berbalik arah. Tingkat di mana harga cenderung berbalik arah adalah tingkat overbought atau oversold. Terkadang harga bergerak menyamping (ranging) pada level ini untuk waktu yang lama sebelum mulai membalikkan arah. Anda akan melihat level overbought dan level oversold dengan bantuan indikator RSI dan kapan peluang trading paling tepat.

Melihat Peluang Perdagangan Dengan Indikator RSI
Indikator populer untuk mengetahui kondisi overbought dan oversold adalah RSI, umumnya dengan periode standar 14. Aturannya cukup simpel, bila RSI sudah mencapai level 70 maka hal itu dianggap overbought dan cenderung downtrend, sedangkan bila level RSI mencapai 30, harga dianggap sudah oversold dan akan ada koreksi ke atas (uptrend).

Meskipun begitu, Anda harus sedikit bersabar untuk membuka posisi, karena kerap indikator RSI telah menunjukkan kondisi overbought atau oversold namun harganya masih naik atau turun dengan drastis. Supaya aman, Anda harus menunggu kapan garis RSI memotong garis level 70 dari atas ke bawah untuk kasus jenuh beli seperti contoh berikut, atau memotong garis 30 level dari bawah ke atas untuk kasus oversold.

Pada contoh di atas, sell entry dilakukan setelah pemotongan RSI 70 dari atas ke bawah (area B), dan menghindari masuk saat kondisi jenuh beli terjadi (area A).

Trading Forex dengan Overbought dan Oversold Indikator CCI
Perlu diketahui, selain menggunakan indikator RSI, keadaan overbought dan oversold yang potensial sebagai titik entry maupun exit juga bisa didetksi dengan indikator CCI. Untuk lebih jelasnya, mari simak pembahasannya di bawah ini.

Commodity Channel Index (CCI) termasuk dalam jajaran indikator osilator yang sering digunakan sebagai alat untuk menemukan momentum masuk. Berkat bersifat osilator, CCI juga digunakan sebagai indikator overbought dan oversold, serta divergensi dengan arah pergerakan harga yang mengindikasikan kemungkinan adanya perubahan arah trend.

Pembuat indikator CCI ini, Donald Lambert, menyarankan untuk memperhatikan keadaan jenuh beli dan jenuh jual sebelum memutuskan masuk. Misalnya, nilai CCI adalah: (PP – sma (PP, X)) / (0,015 x SD), dimana PP adalah titik pivot, sma adalah simple moving average atau nilai mean, X yaitu periode waktu pengukuran dan SD adalah standar deviasi

Batas tingkat CCI adalah +100 dan -100. Jika kurva indikator CCI berada di atas +100, maka terjadilah kondisi jenuh beli (overbought) yang berarti pergerakan harga bergerak naik seiring dengan momentum dan telah menyimpang dari fluktuasi yang normal, demikian juga jika kurva indikator CCI berada di bawah -100, maka terjadilah oversold, yang berarti pergerakan harga bergerak turun seiring dengan momentum dan telah menyimpang dari fluktuasi normal.

Dengan demikian, CCI merupakan indikator yang mengukur seberapa jauh harga telah bergerak dari nilai rata-ratanya. Bila CCI berada di area overbought atau oversold, itu berarti harga telah melewati deviasi pergerakan normal (standard deviasi) dari rata-rata. Kondisi jenuh beli (overbought) adalah sinyal untuk menjual dan keadaan oversold adalah sinyal untuk membeli.

Post A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *