Faktor Penunjang Kesuksesan Strategi Hedging

Strategi hedging ini sering menjadi alternatif favorit bagi para trader yang tidak ingin cut loss. Sebagian trader tersebut berpendapat bahwa hedging perlu dilakukan untuk meminimalkan kerugian. Namun ternyata, tidak sedikit trader yang menggunakan strategi hedging untuk mendatangkan profit trading. Namun, untuk mendapatkannya ada faktor penunjang kesuksesan strategi hedging yang perlu trader ketahui terlebih dahulu.

A. Situasi Pemicu Strategi Hedging

Banyak trader menyebut strategi hedging adalah teknik trading tingkat lanjut. Namun, sebagian besar pemula telah melakukan hedging secara impulsif. Misalnya ketika mereka ‘ingin tahu’ dengan pesanan yang tidak dapat untung, sebagian besar akan membuka posisi baru untuk mengejar harga yang berlari dalam arah berlawanan dari order pertama.

Namun, disisi lain trader yang berpengalaman melakukan hedging sebagai strategi yang terencana. Mereka tidak termotivasi untuk berburu untuk keuntungan trading atau ingin membuktikan diri. Bagi trader pro, strategi hedging adalah bagian dari trading plan yang sudah diperhitungkan. Apakah akan melakukan hedging dalam satu pair atau dua pair yang berbeda, apakah akan langsung menerapkan hedging atau baru membuka posisi berlawanan ketika order pertama mengalami kerugian, atau berapa lot, take profit dan stop loss yang ditentukan untuk setiap order.

Strategi hedging yang terencana jelas akan dimaksimalkan untuk (setidaknya) mengamankan trading dari kerugian besar. Jika sudah berpengalaman dan terbiasa mengantisipasi pergerakan pasar, seorang trader bahkan bisa menyusun strategi hedging yang mendatangkan profit trading. Sementara itu, trader pemula yang melakukan hedging karena terjerat emosi, lebih berisiko bertindak gegabah.

Mereka tidak menganalisis volatilitas harga, dan sering terjebak ketika posisi-posisi hedging locked (terkunci). Kebingungan untuk memutuskan posisi mana yang dapat dilepas dan dipertahankan mulai meledak, sehingga seringkali mereka akhirnya posisi itu terus mengambang, atau bahkan mengakhiri hedging tanpa dasar yang logis. Untuk memperjelas pemahaman Anda, berikut adalah contoh strategi hedging yang terencana dan tidak terencana:

Strategi Hedging Terencana

Semisalnya pair EUR/USD saat ini di 1.20000. Anda membuka open buy dan sell dengan lot yang sama pada level itu. Keesokan harinya, harga turun menjadi 1,19500. Ketika melihat oscillator, harga berada pada level oversold dan ada beberapa tanda bullish reversal dari pembacaan price action.

Untuk mengamankan posisi jual yang sudah menguntungkan, Anda dapat menutupnya, lalu biarkan posisi beli untuk menyambut peluang dari reversal bullish. Ketika harga benar-benar naik, Anda sudah dapat menghasilkan keuntungan saat harga baru sampai ke level 1.19530. Ha ini bisa terjadi karena posisi buy Anda memang merugi 70 poin atau 7 pips, tetapi order sell Anda sudah profit trading 500 poin atau 50 pips. Itu berarti Anda mendapat untung sebesar 43 pips.

Dalam skenario ini, terdapat 3 tindakan yang dapat trader pilih:
1. Menutup posisi buy di level 1,19530 dan mendapat profit 43 pips.
2. Menutup order buy pada level breakeven (1,20000) dan mendapatkan profit 50 pips.
3. Menutup order buy di atas 1.20000 untuk dapat mencapai keuntungan trading yang lebih tinggi.

Ingatlah pada akhirnya, semua skenario hedging di atas dapat mendatangkan profit. Namun, tentu saja ada risiko harga berbalik turun sebelum benar-benar menyentuh level yang ditargetkan. Oleh karena itu, pemahaman tentang kekuatan trend diperlukan dalam hal ini, agar Anda tidak menetapkan target keuntungan trading terlalu jauh. Strategi dan indikator yang digunakan juga tidak harus sama dengan contoh yang diuraikan di atas, yang menggunakan oscillator dan price action untuk melihat sinyal reversal. Merupakan ide yang baik untuk menggunakan sistem yang telah terbukti berdasarkan pengalaman dan pemahaman trading Anda sendiri.

Strategi Hedging Tidak Terencana

Anda melihat peluang kenaikan harga saat EUR/USD menyentuh 1.20000. Tidak lama setelah itu, order buy dibuka untuk mendapatkan keuntungan dari perkiraan tersebut. Ketika harga benar-benar turun ke level 1,19500, Anda panik dan merasakan analisis sebelumnya telah salah. Anda juga membuka order sell pada level itu, tetapi harga berikutnya naik di 1.19530.

Dalam posisi terkunci seperti itu, posisi beli dan jual Anda mengalami kerugian yang sama. Karena itu semua dilakukan tanpa rencana dan analisis, Anda tidak tahu apakah harus membiarkan keduanya tetap terbuka, atau harus menutup salah satu dari posisi tersebut, atau mengakhiri keduanya.

Dalam skenario ini, terdapat 2 pilihan yang dapat trader tentukan:

1. Dua posisi dibiarkan terbuka

Jika harga naik, floating loss dari posisi jual akan terus bertambah, sementara posisi beli baru akan mengalami breakeven jika harga kembali menyentuh 1.20000. Sementara Anda menunggu kemungkinan mana yang memiliki probabilitas tertinggi, posisi hedging yang telah terkena dua kali spread itu dapat dibebani lagi oleh bunga swap.

2. Menutup salah satu posisi

Anda harus benar-benar mengetahui posisi mana yang harus ditutup, dan pada level mana sebaiknya order ditutup. Jika kurang perhitungan di salah satu aspek, maka Anda benar-benar dapat menutup posisi yang salah. Mengingat tindakan hedging sebelumnya telah dilakukan tanpa rencana, maka penutupan posisi kemungkinan besar tidak dipertimbangkan dengan benar.

Katakanlah ketika harga berada di 1,19530, Anda masih ragu apakah harga telah memantul dan dapat bergerak naik lebih lanjut, karena sebelumnya telah sangat dikecewakan oleh penurunan harga hingga 50 pips. Pergerakan naik yang sebenarnya didahului oleh sinyal oversold dan bullish reversal price action hanya dilihat sebagai koreksi di mata Anda. Sehingga pada akhirnya, yang ditutup hanya open buy. Ketika harga melonjak hingga 1.20000, kerugian Anda jelas berlipat ganda,sekitar -7 pips dari posisi beli, ditambah -50 pips dari order sell. Ini belum terakumulasi dengan spread dan (kemungkinan) swap negatif.

B. Memahami Strategi Hedging

Bahkan jika Anda sudah berencana untuk trading dengan strategi hedging, Anda masih perlu memperdalam pemahaman Anda tentang strategi hedging ini. Pahami lebih dalam pada artikel kami apa itu hedging? Ingatlah situasi-situasi di atas tidak selalu terjadi, karena ada kalanya sinyal trading meleset dan Anda malah loss dua kali.

Selain itu, strategi hedging yang direncanakan sebagian besar memiliki aturan yang tidak sederhana, terutama jika melibatkan penempatan entry berdasarkan pending order, perhitungan lot, juga pengukuran stop loss dan take profit. Selain itu, setiap perhitungan dan keputusan dalam strategi hedging harus dilakukan dengan kepala dingin dan diambil dengan keputusan seobyektif mungkin. Ini ujian untuk trader pemula, karena mereka biasanya sulit untuk berpikir rasional, ketika posisi trading masih terkunci dan dua-duanya floating loss.

C. Pengetahuan tentang Risiko Hedging

Meskipun strategi hedging yang direncanakan dapat dikelola sedemikian rupa untuk mendatangkan keuntungan trading, esensi awalnya tetap melindungi trading dari risiko kerugian besar. Dalam menyiapkan rencana hedging, Anda perlu tahu bagaimana meminimalkan risiko dengan strategi hedging terlebih dahulu, sebelum mencoba untuk mendapatkan lebih banyak keuntungan trading.

Konsep dasar dari hedging yang membuka 2 posisi berlawanan pada satu waktu hanya akan berakhir breakeven. Kecuali trader menggunakan lot yang berbeda, atau sengaja membuka posisi pada level yang tidak sama, maka anggapan itu masih berlaku. Banyak trader menganggap strategi hedging lebih berisiko, karena mereka akan dikenakan spread 2 kali.

D. Jenis Strategi Hedging

Setelah mengetahui pemahaman hedging, langkah selanjutnya adalah menerapkan strategi yang tepat. Perlu Anda ketahui, strategi hedging terdiri dari berbagai jenis, ada satu pair hedging, hedging korelasi pair, dan lain sebagainya. Setiap jenis memiliki kelebihan dan kekurangan yang dapat disesuaikan dengan pemahaman dan toleransi risiko Anda.

Sebagai contoh, hedging satu pair dapat dilakukan lebih mudah, karena Anda tidak perlu mencari korelasi, melakukan analisa tambahan untuk pair lain, atau mengantisipasi perbedaan spread antar pair. Namun, kecenderungan untuk terkunci dalam ‘posisi impas’ akan lebih besar, dan ada beberapa broker yang membatasi kebebasan hedging satu pair.

Di sisi lain, hedging korelasi berganda dapat menjadi solusi untuk pembatasan yang dikenakan oleh kebijakan broker. Selain itu, Anda bisa mendapatkan selisih hedging yang lebih besar. Namun, cara korelasi pasangan pos lebih rumit daripada satu pasangan lindung nilai, karena Anda perlu menemukan korelasi terbaik, melakukan analisis dalam (setidaknya) dua pasang, dan dapat mengatasi risiko spread dan swap kesenjangan antara dua pasangan.

Penggunaan jenis strategi hedging yang tepat sangat penting, karena Anda tidak akan mendapatkan hasil apa pun jika Anda menerapkan cara lindung nilai yang tidak sesuai dengan pemahaman Anda.

E. Dukungan Broker

Untuk dapat mengolah strategi hedging yang terencana yang dapat mendatangkan keuntungan trading, tentu saja diperlukan dukungan layanan dari broker. Tidak ada gunanya merencanakan strategi hedging Anda satu pair, jika ternyata broker yang Anda gunakan tidak mengizinkan teknik tersebut. Untungnya, ada lebih banyak broker yang memungkinkan daripada melarang hedging. Mereka yang tidak mengizinkan hedging biasanya adalah broker teregulasi di AS, dikutip dari Kompasiana karena mereka dibatasi oleh aturan NFA yang tidak mengizinkannya.

Namun, Anda perlu memperhatikan kembali ketentuan-ketentuan broker dalam kondisi tertentu. Ini karena ada broker forex yang memungkinkan hedging untuk trading dalam kondisi normal, tetapi melarangnya ketika klien mengikuti program bonus, kontes, atau promo broker tertentu. Selain aturan broker, beberapa spesifikasi broker lain yang perlu dipertimbangkan adalah:

1. Spread ketat, untuk meminimalkan biaya trading dari posisi-posisi hedging.

2. Platform trading, karena ada platform tertentu, seperti MetaTrader 5 yang tidak dapat digunakan untuk hedging satu pair. MT5 hanya dapat memfasilitasi hedging jika broker mengaktifkannya dalam mode hedging bukan netting.

3. Eksekusi order, untuk memastikan kelancaran strategi hedging sesuai yang direncanakan. Jika broker sering terlambat untuk mengeksekusi order, juga sering memberlakukan slippage dan requote, maka seberapa baik hedging dengan cara apapun tidak akan membawa keuntungan trading yang diinginkan.

Demikianlah penjabaran mengenai beberapa faktor penunjang kesuksesan strategi hedging, semoga bermanfaat.

Post A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *