Definisi Kebijakan Bank Sentral Dalam Forex

Setiap negara memiliki Bank Sentral-nya sendiri yang bertindak sebagai ‘bank-nya bank’ serta otoritas moneter. Bank Sentral biasanya memiliki mandat untuk menerbitkan uang, menarik uang dari peredaran, dan kebijakan-kebijakan lain untuk menjaga stabilitas ekonomi dan moneter suatu negara. Oleh karena itu, memahami definisi kebijakan Bank Sentral dalam forex sangat mempengaruhi nilai tukar mata uang negara tersebut.

Menurut Kompas.com, Bank Indonesia sebagai Bank Sentral mewaspadai kebijakan moneter yang ditempuh negara-negara maju seperti Federal Reserve, Bank Sentral AS dan Bank of Japan, Bank Sentral Jepang untuk meningkatkan pertumbuhan ekonominya.

Suku bunga

Untuk menetapkan suku bunga acuan yang kemudian akan berfungsi sebagai dasar untuk menghitung return aset, imbal hasil obligasi, serta bunga di pasar antar bank merupakan salah satu wewenang yang dimiliki oleh Bank Sentral. Perubahan dalam pengembalian hasil aset-aset tersebut pada gilirannya akan mempengaruhi minat investor untuk memegang suatu mata uang. Dengan demikian, hal tersebut dapat berdampak besar pada pasar forex.

Kenaikan suku bunga merupakan bagian dari pengetatan moneter yang dilakukan ketika tingkat inflasi sangat tinggi. Tujuannya mungkin dua, yaitu untuk mencapai target inflasi yang telah ditentukan dengan membendung kenaikan harga-harga, atau untuk membendung arus capital outflow (pelarian dana modal ke luar negeri).

Sementara ketika inflasi dianggap rendah (deflasi atau disinflasi), maka pemangkasan suku bunga harus dilakukan. Tujuan utamanya adalah agar harga-harga naik dan mencapai target inflasi. Pemasangan suku bunga juga bisa dilakukan dengan tujuan memperlemah nilai tukar mata uangnya dan meningkatkan daya saing ekspor.

Sebelum semakin mendalam, pahami juga istilah penting pada berit fundamental forex, karena The Fed termasuk salah satu dari bagian tersebut.

Contoh:
Pada awal 2014, the Fed mulai menyingkirkan kebijakan moneter longgarnya (stimulus/QE). Dengan upaya untuk memperketat kebijakan moneter yang akan mengarah pada kenaikan suku bunganya. Akibatnya menimbulkan kekhawatiran akan terjadi capital outflow besar-besaran dari negara Turki ke aset berdominasi Dollar AS. Oleh karena itu, bank sentral Turki, Türkiye Cumhuriyet Merkez Bankasi (TCMB) telah menaikkan suku bunga secara drastis dari 4,5% menjadi 10%.

Federal Reserve AS (The Fed) telah mempertahankan suku bunga pada level rendah 0,25% sejak Desember 2008 (puncak krisis Mortgage Subprime) dalam upaya untuk menahan penurunan pasar keuangan melalui kebijakan moneter longgar. Pada tahun 2015 Fed berencana untuk menaikkan suku bunganya, karena dilihat AS secara bertahap pulih dan inflasinya perlahan naik.

Operasi Pasar Terbuka

Operasi pasar terbuka mengacu pada kebijakan Bank Sentral guna menyuntikkan likuiditas ke dalam perekonomian (stimulus) dengan mencetak uang untuk membeli sekuritas (sekuritas seperti saham, obligasi, dan lain-lain). Ini adalah salah satu kebijakan moneter yang longgar. Selain itu, Bank Sentral juga dapat menjual sekuritas untuk mengurangi jumlah uang beredar di masyarakat.

Pencetakan uang oleh Bank Sentral kadang-kadang disebut sebagai upaya untuk “memperluas” neraca karena Bank Sentral secara efektif meningkatkan besaran dana dalam neraca (balance sheet)-nya. Pembelian sekuritas biasanya disertai dengan persyaratan tertentu, sehingga tidak semua surat berharga di pasar akan dibeli oleh Bank Sentral yang melakukan operasi pasar terbuka. Sejumlah variasi dalam penggunaan operasi pasar terbuka yang paling banyak dibahas dilakukan oleh sebagai berikut:

1. Quantitative Easing (QE) The Fed

Dengan mencetak uang untuk membeli obligasi pemerintah yang dipegang oleh pelaku pasar, The Fed bermaksud untuk menyalurkan likuiditas ke bank-bank sehingga mereka dapat menyalurkannya kembali ke masyarakat dalam bentuk pinjaman dan sejenisnya yang dapat meningkatkan gairah ekonomi.

2. Stimulus Bank of Japan (BoJ)

Dalam upaya untuk meningkatkan jumlah uang beredar, serta meningkatkan inflasi dan pertumbuhan ekonomi. Setiap tahunnya Bank of Japan membeli puluhan triliun Yen obligasi.

3. Long Term Refinancing Operations (LTRO) ECB

Agar bank-bank mendapatkan keuntungan dari pasar keuangan maupun mendistribusikannya dalam bentuk pinjaman ke masyarakat, itulah yang akhirnya dipilih oleh ECM untuk meminjamkan dananya ke bank-bank zona euro dengan bunga terendah. Pinjaman ini adalah pinjaman jangka pendek yang biasanya harus dikembalikan dalam waktu tiga bulan, enam bulan, atau hingga satu tahun. Pada tahun 2014, ECM meluncurkan program Targeted Long Term Refinancing Operations (TLTRO) yang secara khusus ditujukan untuk memberikan pinjaman kepada sektor riil saja, dan pembayaran pinjaman yang lebih panjang (jatuh tempo pada bulan September 2018).

Intervensi Nilai Tukar

Bank Sentral juga memantau nilai tukar sebagaimana perannya sebagai otoritas moneter. Karena itu, Bank Sentral sering melakukan intervensi untuk memperkuat atau memperlemah nilai tukarnya. Bank Sentral akan berusaha untuk melemahkannya, ketika nilai tukar menguat secara berlebihan. Dan Bank Sentral akan turun tangan untuk mencegahnya jatuh lebih jauh ketika nilai tukar negara melemah secara drastis. Intervensi ini biasanya dilakukan dengan membeli atau menjual mata uang asing dalam mata uang yang dicetaknya sendiri.

Bank sentral terkemuka yang paling sering menghitung dalam intervensi nilai tukar adalah Swiss National Bank (SNB). Di masa lalu, SNB pernah khawatir daya saing Swiss akan goyah ketika nilai tukar CHF melonjak lebih kuat daripada Euro, sehingga pada tahun 2011 menetapkan nilai patokan 0.7 CHF terhadap Euro. Untuk menjaga nilai tukar CHF pada level itu, SNB secara teratur mencetak CHF dan melakukan pembelian Euro. Dengan demikian, SNB mempermurah CHF dan mempermahal Euro.

Sebaliknya, Bank Indonesia sering melakukan intervensi untuk memperkuat Rupiah. Bank Indonesia tidak mempertahankan nilai tukar dalam tolok ukur tertentu seperti SNB, tetapi mencegah Rupiah menjadi lebih lemah dari kondisi fundamentalnya. Seperti ketika BI melakukan intervensi saat Rupiah di tahun 2014 berada di kisaran 12.500an per Dollar AS hingga Rupiah menguat ke kisaran 12.300, tetapi baru-baru ini Bank Indonesia melakukan intervensi ketika rupiah mendekati 13.000 per Dollar AS.

Hal ini karena keseimbangan nilai tukar Rupiah secara fundamental telah bergeser, sementara Bank Indonesia memilih waktu intervensi yang tepat tidak berdasarkan pada patokan level tertentu tetapi berdasarkan kondisi ekonomi saat ini.

Intervensi Verbal

Terkadang intervensi verbal disebut juga suasana moral atau himbauan. Himbauan di sini dapat bervariasi. Ini bisa menjadi panggilan moral bagi orang-orang untuk tidak mengambil tindakan yang berpotensi mendepresiasi nilai tukar, atau sebaliknya, jawboning (penyampaian pernyataan yang mendorong nilai tukarnya jatuh), atau jenis pernyataan lainnya.

Intervensi verbal dimungkinkan karena pelaku pasar keuangan selalu mengawasi pernyataan Bank Sentral, dan bertindak atas pernyataan tersebut. Pada Juli 2014 misalnya, ketua The Fed AS, Janet Yellen, mengatakan bahwa harga saham bioteknologi dan sosial media di bursa AS sudah terlalu mahal. Akibatnya, bursa langsung turun dengan harga saham Twitter, Facebook, dan LinkedIn masing-masing merosot hingga 1%.

Reaksi semacam itu membuat pernyataan-pernyataan kepala pimpinan Bank Sentral menjadi sesuatu yang harus diwaspadai. Sepanjang tahun 2014, misalnya, kepemimpinan Reserve Bank of Australia (RBA) berulang kali mendorong turunnya nilai tukar Dollar Australia dengan pernyataan yang bernada negatif (jawboning). Seperti halnya rapat kebijakan Bank Sentral yang biasanya akan menghasilkan keputusan tentang suku bunga dan operasi pasar terbuka.

Semoga bermanfaat Sobat.

Post A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *