6 Kecurangan Broker Forex Nakal

Melakukan trading di broker yang aman merupakan salah satu komponen utama untuk memastikan keberhasilan trading Anda. Bayangkan saja jika Anda telah punya strategi dan mental trading yang mating, tapi broker Anda ternyata sering berbuat curang sehingga semua upaya dan kerja keras akan terbuang sia-sia. Maka dari itu, Anda perlu mengetahui beberapa kecurangan broker forex nakal yang sering dialami para trader selama trading.

Dilihat darimana pun, kesuksesan trading didasari oleh faktor platform, baru setelah itu, kuotasi harga, dan eksekusi order yang semuanya disediakan oleh broker. Tidak heran jika sebuah broker benar-benar berniat untuk memanipulasi trading kliennya, maka cara trading sebagus apapun, serta kondisi mental setenang apapun, tidak akan banyak membantu keselamatan akun trading Anda.

Memang terdengar mengerikan, tapi itulah fakta dibalik bisnis broker. Padahal mereka sudah mendapat profit dari biaya komisi dan spread, tapi tetap saja selalu mencurangi para trader untuk memperoleh keuntungan lebih. Dari sekian banyak bentuk trik broker, berikut ini 6 kecurangan broker forex nakal:

1. Berburu Stop Loss

Broker yang sering melakukan ini juga disebut sebagai Stop Loss Hunter yang telah kami jelaskan beberapa waktu lalu. Dengan bantuan dari robot atau software jenis tertentu, broker akan memonitor trading kliennya, yang kemudian memanipulasi spread.

Bukan hanya menggunakan robot, broker juga ada yang mempekerjakan trader profesional atau tenaga ahli khusus untuk melaksanakan perbuatan curangnya. Cara ini diterapkan supaya posisi trading cepat terkena Stop Loss ketika harga bergerak melawan order Anda.

Contohnya, Anda membuka posisi sell USD/EUR di 1.3180 dengan menempatkan stop loss di 1.3280. Ketika harga bergerak naik hingga ke 1.3275, selisih posisi short dari stop loss hanya bergerak 5 pips. Sebut saja biaya spread awal 2 pips, maka hanya hanya 3 pips tersisa sebelum order ini menyentuh stop loss. Dalam kondisi ini, stop loss hunter akan melebarkan spread yang tadinya hanya 2 pips menjadi 5 pips, alhasil order short Anda tertutup dengan stop loss dan sudah pasti rugi.

2. Slippage

Kecurangan ini adalah contoh kasus yang sering dibicarakan oleh trader ritel. Slippage biasanya didasari oleh tereksekusinya order di harga yang tidak dipesan. Keadaan ini dapat terjadi saat pasar sedang sangat aktif karena ada lonjakan volatilitas. Tetapi, hal ini hanya wajar berlaku untuk broker STP/ECN, mengingat sistem kerja mereka yang mengirim ke penyedia likuiditas.

Proses ini memang berjalan secara otomatis, tapi jelas memerlukan waktu sebab adanya latensi (interval waktu dalam transfer data dari klien ke server penyedia likuiditas). Saat pasar sedang aktif, volatilitas harga akan meningkat cepat, jadi tak heran kalau order bisa terkeksekusi dilevel yang berbeda dengan harga sebelumnya Anda order. Dalam hal ini, slippage masih wajar.

Namun dibroker market maker, pergerakan harga relatif lebih tenang dan tidak terlalu volatil. Mereka bisa menentukan harga bid-ask sendiri dengan demikian lebih mudah memanipulasi trading kliennya. Slippage merupakan salah satu cara yang mereka gunakan untuk mengurangi profit atau menambah loss klien.

Misalnya, Anda open buy EUR/USD dengan harga beli 1.3120, tapi setelah mengklik tombol buy, order ini justru tereksekusi di level 1.3135. Dalam skenario harga memang naik ke 1.3140, profit yang semestinya berjumlah 20 pip hanya akan bernilai 5 pip. Tetapi jika harga justru turun contohnya hingga ke 1.3110, maka kerugian dapat mencapai 35 pip. Padahal kalau tereksekusi di harga normal, loss hanya akan sebesar 10 pip. Bahkan loss ini pun belum ditambah biaya spread.

3. Mark-up Spread

Kecurangan satu ini berkaitan dengan trik broker ECN/STP. Meskipun mereka mengklaim bisa mentransfer order langsung ke penyedia likuiditas, tapi tidak semua broker jenis ini menerapkan spread asli dari provider. Broker ECN/STP biasanya telah memperoleh pendapatan dari komisi per order.

Hanya saja beberapa broker yang menginginkan keuntungan lebih banyak akhirnya mencurangi trader dengan cara melakukan mark-up pada spread, sebuah broker ECN/STP akan menambahkan pip ke dalam spread dasar dari penyedia likuiditas. Misalnya, spread dasar EUR/USD 0,5 pip, broker akan menambahkan 1 pip sehingga spread yang ditanggung trader berjumlah 1,5 pip.

Lantas, bagaimana caranya mengetahui broker yang menambahkan mark-up tersebut? Percaya atau tidak, Anda hanya cukup menanyakan langsung hal ini ke broker. Beberapa broker ECN/STP memang ada yang jujur menyatakan bahwa mereka telah me-markup spread, karena mereka merasa berhak melakukannya.

Sedangkan untuk menelusuri keaslian spread dari suatu broker ECN/STP yang (mungkin saja) menutup-nutupi markup spread-nya, Anda dapat secara langsung membandingkan spread broker dengan spread market yang sebenarnya. Selisih spread normal di pasar biasanya sangat rendah. Bahkan untuk pair cross semacam GBP/JPY, spread yang ditawarkan oleh penyedia likuiditas hanya mencapai 3 pip saja.

4. Leverage Tinggi

Pada dasarnya, leverage di anggap sebagai fitur mumpuni untuk mendukung trader dalam mengambil ukuran trading yang lebih besar dari kekuatan modalnya. Namun fasilitas ini juga dapat menyebabkan akun rentan terhadap margin call kalau digunakan secara berlebihan.

Saat broker market maker memberikan leverage sampai ribuan atau bahkan mencapai 1:2000, hal ini bisa jadi bukanlah untuk membantu namun justru untuk menjerumuskan akun Anda, karena money management akan semakin komplit saat leverage makin tinggi.

Yang paling mungkin untuk menerapkan leverage tinggi ialah broker Market Maker. Broker ECN/STP tidak dapat mencantumkan leverage hingga ribuan, sebab walaupun setiap wilayah memiliki undang-undang berbeda tentang ini, namun penyedia likuiditas tak mungkin menangani resiko penggunaan leverage terlalu tinggi.

5. Requote

Requote merupakan tertundanya eksekusi trading, yang mana broker akan menawarkan kuotasi harga baru (kurang menguntungkan) supaya Anda bisa melanjutkan entry. Sikap ini biasanya dilakukan untuk mencegah trader mengambil profit saat akan mengambil posisi sesuai arah trend.

Contohnya, saat harga sedang turun sehingga Anda memutuskan untuk melangkah masuk dengan entry sell. Tetapi broker justru mendelay posisi short, dan justru menawarkan requote saat harga sudah turun lagi ke level yang lebih kecil. Dengan begitu, pastinya Anda akan kesulitan memperoleh profit maksimal kalau broker sering melakukan requote.

6. Bermain Swap

Swap merupakan komisi yang harus Anda bayarkan saat punya posisi menginap. Kemudian, besar biayanya dihitung dari selisih bunga Bank Sentral yang berkaitan dengan pair mata uang trading. Biasanya, besaran swap memang berbeda-beda antar broker.

Namun, Anda lihat dulu perbandingan anatara swap broker dengan swap hasil perhitungan suku bunga acuan bank sentral. Apabila masih dalam batasan normal, maka Anda bisa membiarkannya. Tetapi jika sudah terlalu tinggi, bisa jadi pertanda broker terlalu banyak mengambil untung.

Para trader yang trading jangka panjang biasanya akan membiarkan posisi terbuka sampai berhari-hari, sehingga mereka jelas akan merasa terbebani apabila terkena swap negatif yang terlalu besar.

Bukan hanya itu, Anda perlu memperhatikan juga jika ada swap negatif dan swap positif. Apabila swap negatif merupakan beban untuk trader, maka swap positif ialah pendapatan ekstra untuk trader. Namun, seringkali ada broker yang hanya membebankan swap negatif saja, namun tidak memberikan swap positif.

Post A Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *